isim fa’il adalah subjek. Ia merupakan hasil dari perubahan (fi’il) kata kerja menjadi kata benda penunjuk pelaku dari kata kerja tersebut. Sebagai contoh dalam bahasa indonesia, dari kata dasar ‘cuci’ atau ‘mencuci’ menjadi ‘pencuci’. 

Dalam kaidah bahasa Indonesia, kamu tinggal menambahkan imbuhan pe- atau pen-. Dalam bahasa Arab, ada pakem atau aturannya tersendiri. Fa’il sendiri berasal dari kata kerja   فَــعَلَ- يَفْـعَلُ  yang berarti melakukan sesuatu, sedangkan pelakunya disebut dengan Fa’il ( فاعل )

Hal inilah kemudian yang menjadi pedoman untuk membentuk atau menentukan bentuk fa’il dari sebuah kata kerja atau fi’ilSebelum pembahasan lebih lanjut, silahkan cermati dan pahami bahwa fi’il adalah kata kerja sedangkan fa’il adalah pelakunya. 

Jadi setiap kata kerja apapun pasti ada bentuk fa’il-nya dan dalam bahasa Arab ada pedoman penggunaannya yang dinamakan wazan. Kitab tersohor yang paling banyak digunakan untuk melihat perubahan bentuk dari sebuah fi’il (kata kerja) ke bentuk lain misalkan fa’il adalah Amsilatu Tasrifiyah atau yang biasa disebut dengan tasripan

Untuk memudahkan pemahaman kamu dalam memahami fa’il perhatikan contoh berikut ini:

IV

III

II

I

ArtiBentuk Fa’ilArtiKata Kerja (Fa’il)
PenutupقافلMenutupقفل
PenyapuكانسMenyapuكنس
PembacaقارءMembacaقرأ
PenggigitقابضMenggigitقبض

Kolom sebelah kanan (kolom I) adalah contoh kata kerja (fi’il) yang terdiri dari tiga kata, sedangkan kolom nomor (III) merupakan bentuk fa’il dari kata kerja tersebut. Bentuk tersebut bukan serta merta ada, namun sesuai dengan pedoman atau yang sering disebut dengan wazan yaitu فَعَلَ.

Jadi definisi atau pengertian mudahnya Isim Fa’il adalah sebuah kata yang menunjukkan pelaku perbuatan dari aspek terjadinya bukan dari aspek aslinya pada diri pelaku dan ia merupakan salah satu dari isim musytaq (kata jadian).    

Fungsi Isim Fa’il

Untuk memahami fungsi dari isim fa’il ini maka perlu dipahami adanya kata kerja intransitif dan kata kerja transitif. Kata kerja intransitif adalah kata kerja yang tidak memerlukan objek agar bisa menyusun kalimat menjadi sempurna menjadi isim fa’il. Kata ini juga tanpa imbuhan. 

Dalam bahasa Arab, kata kerja ini disebut sebagai fi’il lazim. Isim fa’il ini biasanya beri’rob rofa. Maksud dari beri’rob rofa’ adalah kata yang harokat akhirnya dhommah tanwin (dhommatain) ٌ  /wau (و) / alif (ا) / dan nun  (ن). Contoh:

Jadi kita tidak perlu menambahkan فِعْلُه untuk menyatakan perbuatan walid benar. Fungsi lain dari isim fa’il adalah mengubah kata kerja transitif (kata kerja yang butuh objek untuk membentuk kalimat sempurna) dan biasanya berimbuhan, menjadi beri’rob rofa’ serta mengubah maf’ul bih menjadi beri’rob nashob, maksudnya adalah berharokat fathah  (  َ )  / alif (ا) /  kasrah ( ِ ) /  dan ya ( ي ). Contoh:

Contoh Isim Fa’il

Selain hal diatas, sebenarnya ada banyak ragam contoh dari isim fa’il. Namun yang perlu ditekankan seperti sudah dibahas di atas yakni kita harus memahami wazan-nya atau pedomannya.  Seperti yang sudah disebutkan diatas, panduan kitab sebagai wazan atau pedoman yang  paling sering digunakan adalah amsilatu tasrifiyah (tasripan). 

Jika sudah memahami, maka insya alloh perubahan isim fa’il dari kata kerja apapun akan dengan mudah bisa kita ketahui.  Maka sebagai contoh, kita perlu belajar dari memahami dulu ciri bagaimana isim fa’il terbentuk. 

Mengapa?

Agar lebih memudahkan kita dalam menentukan isim fa’il sehingga kita memiliki pedoman pengertian yang mantap. Isim fa’il dibentuk dari tsulasy mujarrad dan ghair tsulasy mujarrad.

Tsulasy mujarrad adalah setiap kata yang terdiri 3 (tiga) huruf asli dan terbebas dari huruf-huruf zaidah (tambahan), sedangkan ghair berarti selain itu. Kata “ قَافِلٌ  “  adalah isim fa’il dari “قَفَلَ “ , begitu juga kata “ قَارِءٌ “ adalah isim fa’il dari  “ قَرَأَ  “.

Apabila ‘ain fi’ilnya telah melalui proses i’lal maka diganti dengan hamzah. I’lal adalah mengubah huruf illat seperti Wau (و), Alif (ا) dan Ya’(ي), supaya ringan dan mudah dalam mengucapkannya.

Contoh:

 Jika ‘ain tersebut tidak di i’lal maka isim fa’il tetap seperti adanya.

Contoh:

Ketentuan Lain yang mudah dipahami untuk fi’il tsulatsy mujarrad:

Kedua ketentuan diatas, ubah harakat huruf tengah (huruf ke-2) dari fathah menjadi kasrah. Silahkan lihat contoh,

Fi’il

Fa’il

ضربضارب
كتبكاتب
قالقائل

Isim fa’il yang terjadi dari fi’il tsulasy mazid dan ruba’i.

Isim fa’il yang terjadi dari fi’il mazid tsulasy dan fi’il ruba’i baik mujarrad maupun mazid berwazankan fi’il mudhari’ ma’lum.  Caranya dengan mengganti huruf mudhara’ah dengan mim yang berharakat dhammah, dan dikasrahkan huruf sebelum akhir.

Agar tidak bingung, perlu dijelaskan bahwa yang dimaksud Fi’il ma’lum adalah kata kerja yang pelakunya disebutkan atau bisa juga disebut kata kerja yang mengandung maksud mengerjakan sesuatu.  Jika dalam bahasa Indonesia dikenal dengan kata kerja aktif, atau kata kerja yang mempunyai awalan me/ber.

Contoh: Paijo membuka pintu : kata “membuka” disebut kata kerja aktif.

Contoh:

Itu tadi penjelasan tentang Isim fa’il. Kalau belum paham, yuk belajar langsung bareng tutor bahasa Arab yang profesional di Pondok Pesantren Annajah. klik disini